Tampilkan postingan dengan label No Tutorial & Teori. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label No Tutorial & Teori. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 Maret 2017

Buat Apa Sekolah???


Siapa yang pernah menonton 3 idiots? Banyak.
Siapa yang suka film itu? Banyak yang suka.
Tetapi siapa yang sebenarnya mengambil pelajaran paling cemerlang dari film itu? Entahlah, siapa yang mengambil manfaatnya.

Ada ibu-ibu dengan anak gadis yang siap menikah. Menonton 3 idiots, ibu-ibu ini sampai menangis. Tapi saat anaknya bilang mau menikah, dan hanya akan jadi ibu rumah tangga saja, ibu-ibu langsung bergegas bilang “nggak boleh, enak saja saya sekolahkan tinggi-tinggi hanya untuk jadi ibu rumah tangga!”. Lihatlah jawaban itu menunjukan sama sekali tidak berbekas pemahaman yang datang dari film yang barusan ditontonnya.

Kita ini sekolah tinggi-tinggi buat apa sih?
Buat nyari pekerjaan keren?
Buat jadi pegawai? PNS? Buat nyari rezeki?
Keliru kalau jawabnya iya. Saya membuka kitab-kitab, membaca buku-buku tua, menelusuri kesemua hal, tidak ada satupun nasehat yang bilang: sekolahlah tinggi-tinggi agar besok jadi pejabat, kaya raya, dan berbagai ukuan duniawi lainnya, dan sebagainya, dan sebagainya. Apalagi kalau membuka kitab yang tak pernah keliru, Al Quran. Juga merujuk nasihat yang tidak akan pernah salah, riwayat Rosul. Seruan untuk belajar, tidak ada rumusnya dengan ukuran duniawi.

Kita disuruh belajar, mencari ilmu (dalam dunia yag sangat modern ini ukurannya SD, SMP, SMA, S1, S2, S3 dst), murni agar kita banyak tahu, asli agar kita paham banyak hal, dan ilmu itu B-E-R-M-A-N-f-A-A-T bagi kehidupan kita sehari-hari.

Seorang istri yang S3, tidak masalah tetap menjadi ibu rumah tangga, dan ilmunya bisa bermanfaat untuk keluarganya. Ilmunya bisa bermanfaat buat tetangga sekitar, aktivitas apa saja yang bisa dia lakukan, terlepas mau bekerja diperusahaan/pemerintahan atau hanya bekerja dirumah.

Itu benar, saya tidak akan membantahnya, memang ada korelasi kuat antara berpendidikan dengan masa depan cerah, tapi definisi ‘masa depan cerah’ itu bukan semata-mata ukuran duniawi yang membuat proses belajar selama ini jadi kosong. Bukan hanya itu.

Maka, kembali ke film 3 idiot tadi, bukankah Rancho hanya belajar dan belajar. Dia senang belajar, dia senang mencari ilmu, titik. Sisanya, serahkan pada nasib. Dia tidak peduli gelar, dia tidak peduli mau bekerja jadi apa, dia tidak peduli. Bahkan dia harus menyingkir dari ‘kehidupan’, pergi menjauh dari gemerlap banyak hal, justru kehidupan dan gemerlapnya dunia yang datang padanya.

Sementara silencer, teman kuliahnya dulu yanng selalu berhitung atas duniawinya, merasa sudah memenangkan segalanya, ternyata kosong saja, dia hanyalah orang yang amat bergantung nasibnya dengan orang lain. Takut dipecat kerja, tergantung nafkahnya dari orang lain, dan diperbudak oleh materi. Sejatinya Silencer hanya orang ‘suruhan’, terutama suruhan ambisi dan nafsu duniawi meskipun direktur sekalipun posisinya.

Aduh, bukankah rumus ini banyak terjadi disekitar kita? Ada banyak teladan yang memilih sibuk belajar, belajar, bekerja, bekerja, dan terus menjadi yang terbaik, mau jadi apapun dia bahkan sekedar ibu rumah tangga, hidupnya ternyata tetap spesial, bermanfaat bagi banyak orang.

Sebaliknya banyak sekali yang sibuk menghitung nilai rapot, mengitung sekolah yang elit, keren, saya sudah S2, S3 situ apa sih? Saya sekolah dikampus ngtop, situ dimana sih? Ternyata tidak pernah lepas dari kungkungan hidupnya, meskipun boleh jadi secara kasat mata sukses menurut ukuran duniawi saat ini.


*Repost TL 

Dan inilah yang orang tua tekankan pada kami, sekolah untuk mencari ilmu. Juara, ranking, dan nilai tinggi bukan ukuran kepandaian seseorang. Besok atau lusa, bekerjalah dengan ikhlas. Jadi apapun, berapapun gajinya, yag penting kita pekerjaan tersebut.

Senin, 13 Februari 2017

Zamannya Sekolah (Part I)



Hujan masih mengguyur wilayah Grengseng dan sekitarnya dari siang tadi, hanya mereda beberapa saat saja. Memasuki bulan kedua di tahun masehi, selain hujan dan panas, kedepannya angin sudah mulai ikut-ikutan mewarnai dan menemani hari-hari kita. Ba’da Maghrib seusai mendekati, memuji, merayu dan meminta banyak hal padaNya, aku duduk di ruang tamu untuk lanjut nonton drama Korea The Legend Of The Blue Sea yang udah keputer berulang kali. Selang beberapa saat Mawar nusul, ngangkut banyak buku sekolah ke atas meja.

Dalam hati ”Ternyata belajarnya dia sama kek aku dulu, cuman nata buku yang sesuai dengan jadwal besok. Belajar sungguhannya kalau ada PR dan kalau besoknya ada ulangan/quis aja. Sisanya paling nyalin tulisan temen karena pernah beberapa kali dikelas nyatetnya ketinggalan atau bahkan tidak nyatet sama sekali karna males, pulpennya ilang, tintanya habis atau bahkan ga bawa bukunya karena ketinggalan”.
Ya ampun kenapa juga Mawar harus demikian? karena sedarah kah? atau emang belajar kek begitu udah biasa dilakukan anak sekolah? Bukan hanya aku dan Mawar saja. Ajib.... jangan ditiru!!!.

Orang tua lihat gitu doang aja udah senengnya minta ampun, dikiranya kita beneran belajar. Apalagi kalau diam depan laptop, udah tuh sempurna. Padahal dari sekian banyaknya fungsi laptop, fungsi yang paling sering digunakan adalah buat nonton. Nonton film, drakor dan apa aja yang pengin ditonton.

Dan sepertinya dari sudut pandang orang tuaku, didepan laptop itu lebih baik timbang didepan ponsel. Aku rasa juga demikian. Aku pribadi paling kurang suka kalau menjumpai orang yang melamun dikit langsung buka gadget, bengong dikit buka hp, bahkan saat sedang berkumpul dengan keluargapun tetap asyik scroll, scroll, scroll, klik, klik, dan klik dan tak pernah lupa cekrak-cekrek. Astaghfirullaahal ‘adziim... kenapa kali aku ini? lihat doang aja ga kuat. Padahal aku sendiri pernah begitu walaupun udah ga lagi, udah sadar.
Sebagai orang yang kalau sekolah selalu menempati bangku depan, aku kurang begitu mengetahui info-info terkini yang selalu mereka bahas dibelakang secara bisik-bisik disaat proses belajar mengajar berlangsung. Dan kalau aku amati ada beberapa fenomena ganjil, diantaranya:

  1. Diem banget seolah mendengarkan sambil sesekali bola matanya keatas ngamatin sikon sekitar, padahal dirinya lagi nonton film.
  2. Yang ini juga sama diemnya. Berselancar didunia maya, login dibeberapa media sosial dan kemudian gonta-ganti tab. Ngoment, nglike, nytatus sana-sini.
  3. Mulutnya sih diem tapi kedua ibu jarinya yang ga mau diem. Asyik dengan kegiatannya sendiri yaitu ngedit foto yang pernah diambil kemudian save and share, jadiin FP pada layanan Messanger dan tak pernah absen untuk update status.
  4. Seru-seruan sendiri dengan Main game.
  5. Ngerumpiin/curhat macem-macem secara sembunyi-sembunyi.
  6. Tidur dengan wajah dikasih aling-aling laptop atau buku biar ga kelihatan.
  7. Ngelamun.
  8. Dll.

Nah, akan tetapi tak sedikit dari mereka yang beneran mendengarkan dan memperhatikan dosen didepan yang lagi bagi-bagi ilmu.

Begitu punya feeling dosennya mau mendekat, cling!!! Seketika jadi pada sebaik-baiknya mahasiswa. Sangat antusias memperhatikan, menakjubkan.

Kalau dosen killer berucap “....... sampai jumpa dipertemuan selanjutnya”. Sontak hampir semuanya berjamaah mengucapkan “yah.....!!!!”, sambil pasang ekspresi campur aduk seperti kecewa, sedih dan ga rela. Ekspresi yang menggambarkan bahwa ga mau mata kuliah yang sedang berlangsung ini berakhir begitu saja. Karna di usia emas kami, motivasi belajar lagi klimaks-klimaksnya. Padahal mah apa kali, peres semua (hahaha). Giliran dosennya udah keluar kelas, antar mahasiswa saling lempar senyum dan tertawa lepas. Mudah-mudahan ga kualat, karna aku kadang makmum.

Mengenai tugas, seringnya sih ngerjain sendiri. Karna mahasiswa/pelajar juga manusia, punya mata punya hati, jadi pernah juga minta ke temen yang udah ngerjain buat berbagi. Kolaborasi antara ngerjain sendiri dan minta ke temen.

Aku juga pernah nyontek, berakhir ada rasa tidak puas dalam relung hati yang paling dalam sehingga tidak mau mengulangi lagi. Tapi jujur saat eS tiga (SD, SMP, SMK) seingatku aku tidak pernah nyontek ketika ujian semester atau bahkan ujian nasional, in sya Allah.

Spesial buat kalian para penerus bangsa,
-----
Jangan pernah  menyontek disekolah/kampus. Jika sudah terjadi, jangan ulangi, berhenti sekarang. Dosa nyontek saat ujian itu, dibawa sampai mati. Karena ijazah yang kita gunakan, nilai-nilai yang kita dapat untuk mencari pekerjaan besok-besok, ternyata palsu. Segera bertobat, menyesal dan jangan diulangi.
----- 

Nah dan buat kalian  yang minder dan kurang PD dengan sekolahan/kampus sendiri, pahami ini: 
-----
Tidak ada itu yang disebut dengan sekolah/universitas paling keren, fakultas paling elit, jurusan paling hebat. Kalaupun ada, biarin saja orang lain sibuk membangga-banggakannya, membicarakannya. Bagi kita, yang membuat keren, elit atau hebat proses belajar itu adalah kita sendiri. Lakukan yang terbaik, terus belajar sungguh-sungguh, mencintai prosesnya, maka semua akan dengan sendirinya keren, elit dan hebat, bahkan jika sekolahnya biasa-basa saja, dipelosok desa pula, tidak masalah.
-----

Itulah sebabnya mengapa orang tua dan keluarga atau bahkan orang lain sangat cerewet dalam segala hal, termasuk belajar. Ingat ya, kalau orang masih cerewet itu berarti masih sayang. Karena bukan ketika diomeli, dimarahi dan dicereweti yang menyakitkan. Yang lebih menyakitkan adalah saat orang lain memutuskan sudah tidak peduli lagi. Ditegur tidak, disapa juga tidak, didiamkan begitu saja. Dianggap tidak ada. Maka meminjam istilah kekinian anak muda, “Kelar Hidup Lu”.

Yo ayo, ayo semangat belajar, maju perut pantat mundur maju terus pantang mundur.

Ada 5 hal penting saat kuliah. Buat kalian yang baru masuk kuliah atau nanti bakal masuk kuliah.

  1. Kejar IPK yang bagus ditahun-tahun awal. Karena ditahun-tahun terakhir kuliah, godaannya semakin besar.
  2. Segera adaptasi pola belajar. Karena didunia kampus kita harus lebih mandiri dan membuat pola dan waktu belajar sendiri.
  3. Jangan takut habis waktu dengan organisasi. Justru banyak waktu luang mesti diwaspadai.
  4. Kalau mau jadi mahasiswa teladan. Bagusin IPK. Perbanyak shilaturahmi, aktif berorganisasi dan banyak berkarya.
  5. Kalau mau dikenal dosen, aktif bertanya dan serius belajar. Dosen hanya kenal mahasiswa paling aktif dan paling menyebalkan.

Yang sebentar lagi masuk kuliah, semangat ya!!!.
Yang belum masuk kuliah tahun ini, jangan menyerah.
Yang belum lulus kuliah, Tuhan bersama mahasiswa tingkat akhir dan juga bersama orang yang sabar bukan yang berIPK besar. Lagian IPK kecil itu juga bukan jelek, tapi sederhana. Ingatlah bahwa Tuhan itu menyukai kesederhanaan.
Semoga kita bisa menyelesaikan amanah belajar didunia kampus dengan sebaik-baiknya. Menjadi mahasiswa sukses, dan membahagiakan orang tua. Aamiin....

Senin, 12 Desember 2016

Pepek Rupek



Saat kita mengobrol dengan seseorang selama 30 menit, kita ternyata menyadari, ada banyak prasangka dan penilaian kita selama ini yang keliru.
Saat kita menghabiskan waktu bersamanya selama 3 jam, kita tambah menyadari, ada banyak penilaian kita selama ini yang salah sangka.
Dan saat kita bermalam dirumahnya, tinggal di rumahnya, mengenal lebih dekat kehidupannya kita akan meksimal menyadari, ternyata kita tidak tahu apa-apa tentang orang tersebut sebelumnya, dan sekarang baru tahu betapa fatalnya penilaian kita.
Didunia maya, ditengah higar-bingar teknologi informasi, 99% dari kita nyaris hanya menilai orang lain bahkan tanpa pernah mengobrol 30 menit dengannya, kebencian, hater atau sebaliknya, rasa suka, idola, ngfans apapun jenisnya, hanya sebatas penilaian kulit luar saja.
-
Jangan menyakiti orang lain.
Karena kita tidak tahu masa depan. Boleh jadi, orang-orang yang kita pandang sebelah mata hari ini, ternyata besok lusa kita minta bantuan padanya. Orang-orang yang kita tinggalkan hari ini, kita sakiti hatinya, ternyata besok lusa kita hanya bisa menatap dari kejauhan, menyaksikan betapa hebat dirinya.
-
Tenang saja ketika sesuatu yang kita anggap berakhir, ketika kita kehilangan seseorang yang kita nilai spesial, ketika sebuah kesempatan emas yang hilang, maka tenang saja, akan datang sesuatu pengganti yang lebih baik, seseorang yang lebih istimewa, pun kesempatan emas lainnya.
Pastikan saja syaratnya dipenuhi, bersabar. Bagi orang-orang bersabar, selalu datang hal-hal baik sebagai pengganti hal-jal sebelumnya.
-
Wajah cantik itu banyak. Apalagi dengan teknologi kosmetik yang semakin canggih. Lihat saja instagram, cantik-cantik semua fotonya bukan?
Tapi hati yang cantik itu langka. Maka jadilah yang ini. yang tidak bisa dibedaki, tidak bisa dibungkus dengan teknologi, asli memang begitu.
-
Tersenyumlah. Bukan karena kita sudah paling bahagia sedunia, tapi simpel karena kita mensyukuri hidup ini.
Tersenyumlah. Bukan karena kita sudah kaya raya, tapi karena kita merasa cukup dan berterima kasih.
Tersenyumlah. Bukan karena kita sudah bebas dari masalah, tapi karena apapun yang akan terjadi besok lusa, itu adalah skenario terbaik yang terjadi.
-
Orang sabar itu bukan karena dia bodoh, dia justru cerdas sekali, menunggu momen terbaiknya.
Orang sabar itu bukan karena dia tidak punya pilihan, dia justru brilian sekali harus memilih yang mana.
Orang sabar itu juga bukan karena dia penakut, pencemas, ragu-ragu, dia justru berani memutuskan untuk bersabar sedikit lagi.
Nah, jika kita bersabar karena kita terdesak, tdak ada pilihan lain, ragu-ragu, maka perbaikilah niat bersabarnya. Itu akan mengubah kualitas sabar kita signifikan sekali.
-
Ketika sesuatu yang kita inginkan tidak terjadi, maka bukan berarti itu tidak akan terjadi selama-lamanya, boleh jadi itu disimpan diwaktu yang lebih spesial.
Karena segala sesuatu yang baik, selalu tiba diwaktu terbaiknya. Mungkin agar kita lebih siap, juga mungkin agar kita lebih pandai bersyukur.
-
Selalu ada kesempatan kedua. Jangan khawatir.
Kesempatan untuk memperbaiki setelah kesalahan.
Kesempatan untuk kembali setelah keliru pergi.
Kesempatan untuk berbalik setelah salah langkah.
Kesempatan untuk mendapatkan yang lebih baik setelah tertipu.
Kesempatan untuk berhasil setelah gagal.
Kesempatan untuk bahagia setelah tersakiti.
Selalu ada kesempatan kedua. Tinggal dilengkapi dengan niat yag baik, serta sungguh-sungguh berubah.
-
Mau seberapa menyaitkan sebuah kejadian, jika kita mempunyai hati selapang lautan, ditumpahkan racun paling mematikan sekontainerpun, tetap tidak terasa.
Tetapi kalau hati itu sempit, satu tetes berbisa saja cukup untuk membuat hidup kita ‘binasa’ sehari, seminggu, bahkan berbulan-bulan.
Melapangkan hati adalah pekerjaan panjang, perlu latihan, berkali-kali jatuh bangun dan jelas membutuhkan ilmu dan pemahaman baik. tidak mengapa gagal, besok lusa tidak terasa hatinya sudah semakin luas.
-
Jangan mudah menyerah.
Kalau bosan, cari selingan sejenak. Kalau lelah, mari istirahat sebentar. Kalau kehabisan nafas, boleh berhenti mengambil nafas.
Tetapi jagan menyerah. Ayo, kita kembali berusaha dengan semangat baru.
-
Orang Sungguh.
Orang sungguh baik itu bukan karena berharap balas, apalagi penuh perhitungan, tapi sematak arna dia berharap janji Tuhannya.
Orang sungguh sabar itu bukan karna terpaksa, tidak ada pilihan, tapi semata karena dia memutuskan percaya pada Tuhannya.
Orang sungguh berani itu bukan karena sedang ramai, banyak yang membela, tapi semata karena dia bergantung pada Tuhannya.
-
-
-
-

*Repost TL

Minggu, 11 Desember 2016

Perasaan


Hukum kekekalan perasaan.
  1. Perasaan itu tidak bisa diciptakan atau dimusnahkan.
  2. Perasaan hanya bisa berubah dari satu bentuk kebentuk lain.
Alirkan saja seperti mengalirkan air yang jernih. Jika perasaan kita benci, ubahlah jadi memaafkan. Jika kita rindu, ubahlah jadi bersabar. Jika perasaan kita sakit, sesak ubahlah jadi peduli dan penyayang. Toh tidak bisa dimusnahkan.

8 pelajaran perasaan:
  1. Mencintai orang yang justru memanfaatkan situasi hidup kita. Kita tahu situasi tersebut, tapi tidak bisa melepaskannya. Alih-alih, kita terus berharap besok lusa dia berubah (yang sia-sia).
  2. Menyayangi orang yang mengkhianati kesetian kita. Kita tahu, telah menambatkan seluruh kepercayaan kepadanya, setahu dia telah mengkhiantinya berkali-kali.
  3. Mencintai orang yang mencintai orang lain (tidak perlu penjelasan lebih lanjut).
  4. Mencintai seseorang secara berlebihan. Menganggapnya segalanya. Kita korbankan waktu, kesempatan, harta benda, semua hal terbaik milik kita, untuk besok lusa semua itu tidak bertahan lama.
  5. Mencintai diwaktu yang keliru. Tempat yang keliru. Sehingga situasinya amat sulit dan rumit.
  6. Mencintai orang yang merusak hidup kita. Bukannya membuat kita menjadi lebih baik, tapi sebaliknya, merusak kehidupan. Berbohong, menjadi contoh buruk, mencuri, berbuat jahat, melanggar begitu banyak nilai-nilai, hanya demi katanya cinta.
  7. Mencintai orang yang sebenarnya tidak kita cintai (lagi).
  8. Mencintai orang yang kita tahu persis tidak akan pernah kita dapatkan.
Ketika perasaan tersebut tumbuh subur, kita mungkin pernah, sedang atau akan melakukan salah satu atau beberapa hal dibawah ini:
  1.  Sibuk ngisi quiz “Apakah dia suka padaku”. Mulai dari yang simpel seperti mencocokan nama, coret-coret huruf yang sama, berapa sisanya, hingga yang canggih, alat menghitung kecocokan di internet, masukkan nama sendiri dan nama yang ditaksir, enter, hasilnya keluar. Tertawa riang kalau kesimpulannya bagus, dan nyengir kecewa kalau kesimpulannya jelek. Ajaib sekali, padahal jelas-jelas apa gunanya pula kalau kesimpulannya jodoh banget.
  2. Sibuk mengawasi akun media sosial yang ditaksir. Diintip-intip, diamat-amati, dinilai-nilai. Pasang status cari perhatian. Pengin banget ada aplikasi ‘siapa yang melihat profileku’ biar tahu apakah yang ditaksir juga ngelihat profilenya. Sibuk banget. Padahal yang ditaksir, justru sedang tebar pesona ngelihat profile dua, tiga, empat orang lain, sama sekali nggak peduli. Nungguin dia OL sepanjang malam, aduhai, pas dia OL, malah keringat dingin, kecut.
  3. Berharap ketemu dimanalah sama yang ditaksir, sudah dandan keren, kecewa berat saat nggak ketemu, tapi pas beneran ketemu malah melipir macam layangan putus, tidak berani bilang hai sepotong kata. Ajaib kan, padahal yang ditaksir itu boleh jadi melihat juga nggak. Senang ngelihat genteng rumahnya, sumringah mellihat jendela kelasnya, bolak-balik kayak setrikaan nyari perhatian. Ck ck ck.
  4. Menyimpan reply sms dari yang ditaksir, screenshoot reply komen, dll, padahal isi sms itu cuma ‘siapa sih ini?’.
  5. Menulis cerita tentang dia, cerpen tentang dia, diary tentang dia, berharap dia membaca tulisan tersebut. bahkan mengkhayal, mimpipun tentang dia. Nonton film cinta-cintaan serasa nonton dia dan aku. Baca buku roman serasa baca tentang dia dan aku. Lupa, kalau didunia ini ada 7 milyar orang, cuma dia saja di kepala. Bahkan, saking fokusnya mikir dia, tiba-tiba ada sms atau reply komen, sudah jingkrak-jingkrak senang, ternyata salah lihat, bukan dari dia. Duuh....
  6. Tiba-tiba menjadi penghafal sejati. Hafal dia besok berangkat jam berapa, dia lewat jalan mena saja, dia suka apa aja. Dan bergegas menyesuaikan jadwal agar sempat berpapasan. Sok tidak sengaja bertemu. Benar-benar penghafal sejati, hafal bajunya, hafal gayanya. Coba kalau belajar matematika persis kayak ini prosesnya, pasti jenius semualoh orang-orang. Tiba-tiba jadi dedektif nomer satu, semua diselidiki. Atau wartawan kelas wahid, semua diinterview.
  7. Pas tau ternyata dia nggak naksir atau kecewa dengan perasaan sendiri. Memutuskan melupakan, mulai deh menghapus nomer hpnya, emailnya, remove fb dan sebagainya. Padahal hiks, nomer hpnya sudah hafal mati, emailnya juga sudah hafal baget. Mau dilupakan gimana?.. Lantas bilang kesemua orang ‘sudah biasa kok, sudah ga kenapa-kenapa lagi’, hiks, hiks.
  8. Kalau sudah jadian, yang sudah menikah 50 tahun saja kalah. Sibuk majang status sayang setiap hari, ganti nama profil facebook ‘aku cayaaang xxxx’, majang foto mesra, makai nama dia jadi second name, manggil papi, mami, aduh, padahal ternyata hitungan bulan juga sudah putus. Lantas mau diapaain itu foto-foto lama? Status-status lama?’

Jika dua orang memang benar-benar saling menyukai satu sama lain. Bukan berarti mereka harus bersama-sama saat ini juga. Tunggulah diwaktu yang tepat, saat semua memang sudah siap, maka kebersamaan itu bisa jadi hadiah yang hebat untuk orang-orang yang bersabar.
Sementara menanti, sibukkanlah diri untuk terus menjadi lebih baik. waktu dan jarak akan menyingkap rahasia besarnya, apakah rasa sakit semakin besar, atau semakin memudar.

Nah jadi,

Kalaupun dia tidak tahu kita menyukainya.
Kalaupun dia tidak tahu kita merindukannya.
Kalaupun dia tidak tahu kita menghabiskan waktu memikirkannya.
Maka itu tetap cinta. Tidak berkurang sesenti perasaan tersebut.
Bersabar dan diam lebih baik. Jika memang jodoh akan terbuka sendiri jalan terbaiknya. Jika tidak, akan diganti dengan orang yang lebih baik.

Single? siapa takut, toh ga bakalan jadi single forever. 

Kesendirian itu adalah pilihan. Kita bisa memilih sendiri, dan tetap bahagia dengan situasi tersebut.
Tapi kesepian, dalam situasi tertentu, dia adalah makhluk yang berbeda lagi. Karena banyak orang yang justru merasa kesepian ditengah hiruk pikuk ramainya dunia.

Kau harus tahu,

Menerima seseorang menjadi bagian dari hidup kita adalah pekejaan yang tidak mudah. Butuh proses, butuh keyakinan, butuh keberanian. Tapi ada yang selama ini menjadi bagian hidup kita, yang kita akhirnya tahu melepaskannya adalah pilihan terbaik untuk semuanya.

Munculnya rasa kecewa dalam hubungan yang tengah berjalan akan selalu ada, bisa karena sebab tak ada kabar sama sekali sehingga membuat kita menunggu. Disinilah kita harus bisa mengerti,  

Ketika seseorang membuat kita menunggu, itu berarti ada hal yang penting yang harus dia urus dibandingkan kita..
Selalu begitu.
Karena kalau kita memang penting, amat berharga, dia tidak akan pernah membiarkan kita menunggu. Dan sama, ketika kita merasa seseorang itu penting, kita juga tidak akan pernah membiarkan dia menunggu sedikitpun.
 
Ueuuh... terkadang,

Perasaan sayang yang berlebihan, esok lusa justru bisa menghasilkan kebencian tak terhingga.

Jadi, selalu jaga hati orang yang menyayangimu. buatlah dia menangis karena dia bahagia bukan karena kau menyakitinya. Karena,

Ketika seseorang berhenti menangis karenanya, maka beberapa saat kemudian, tentu saja air matanya akan kering dipipi, isaknya akan hilang disenyap, seperti tidak ada lagi sisa tangisnya diwajah. Tetapi tangisan itu tetap tertinggal dihati, kesedihan, rasa sakit, kesendirian, beban yang membekas. Boleh jadi sebentar, boleh adi selamanya.

Yang perlu diingat yaitu
Pertama,

Jangan terlalu erat-erat memegang sesuatu, nanti kita susah berhenti sedihnya karena ternyata malah sesuatu itu yang memutuskan pergi.
Pun jangan terlalu longgar memegang sesuatu, nanti kita menyesal tak berkesudahan karena saat terlepas, baru menyadari sesuatu itu amat berharga.
Pegang dengan tangan, lengkapi dengan akal sehat dan pemahaman terbaik. Semoga tidak sedih dan tidak menyesal apapun yang terjadi

Kedua,

Menikahlah dengan orang yang akan bersedia bertengkar, berantem, merajuk, marah-marahan dengan kita untuk selamanya. Tidak bisa kalau cuma menikah dengan orang yang hanya bersedia senang-senang saja.

-
-
-
-
-
*Repost TL. 😊